PROYEK: Baca Buku & Dekorasi Sudut Baca
[Belajar mencintai aktivitas Baca & desain interior]
Kalau ingat masa kecil dulu, bisa dibilang saya si kutu buku, artinya memang sangat suka baca buku. Apa saja saya baca, mulai buku cerita, majalah, komik, cerpen, cerbung, cergam, novel, TTS dan RPUL pun saya lahap. Perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan dan toko buku itu semacam kemewahan.
[Belajar mencintai aktivitas Baca & desain interior]
Kalau ingat masa kecil dulu, bisa dibilang saya si kutu buku, artinya memang sangat suka baca buku. Apa saja saya baca, mulai buku cerita, majalah, komik, cerpen, cerbung, cergam, novel, TTS dan RPUL pun saya lahap. Perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan dan toko buku itu semacam kemewahan.
Saya juga masih ingat suatu hari diijinkan ayah membeli banyak buku; beberapa buku pelajaran dan buku cerita anak. Sampai di rumah, hanya membutuhkan waktu singkat saya menyelesaikan buku-buku itu, dan kakak saya pun bergumam heran, 'gila' katanya.
Makanya saya gemas melihat anak perempuan saya tidak terlalu suka membaca. Alergi sama sekali memang tidak, tapi hanya majalah yang dia suka. Apalagi yang berbonus stiker. Ayahnya juga ternyata sama. Tidak terlalu suka membaca. Mereka lebih senang mendengarkan. Mereka sama-sama dominan auditory learning, belajar lewat mendengar.
Namun begitu, saya percaya tidak suka baca itu bukan faktor keturunan. Ini pasti masalah pembiasaan. Karena segala sesuatunya tidak bisa diajarkan melalui pemaksaan, saya mencoba melalui jalur menjadi contoh yang dominan. Cara pasifnya, saya selalu sempatkan membaca buku sebelum tidur, dengan maksud memperlihatkan asyiknya membaca. Secara aktif juga saya lakukan dengan memberi tugas dan permainan, yang memerlukan referensi buku atau bacaan dalam prosesnya. Misalnya saat kami mengerjakan proyek travel journal, Khan saya tugaskan untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang negara-negara yang ingin dikunjungi. Atau saat Khan ingin memelihara ikan cupang, sebelum saya penuhi, Khan saya tugaskan untuk membaca cara memeliharanya. Cukup panjang prosesnya, tapi ada progres walau belum signifikan. Beberapa waktu lalu Khan mulai ke perpustakaan sekolah dan sempat meminjam atlas dunia. Saya bersyukur, ragam buku yang diminati mulai berkembang.
Kemarin keponakan saya dari Jawa sempat mampir ke rumah dalam perjalanan dinasnya. Ia memberi pesan pada Khan untuk rajin membaca. Dilatarbelakangi cerita sukses keponakan saya itu, rupanya pesan yg disampaikan cukup masuk di hatinya. Dia mulai melirik koleksi buku saya, mengambil salah satunya dan membaca. Alhamdulillah. Kini saatnya memfasilitasi karena momentum sudah saya dapat. Sayapun mulai merapikan dan memilah kembali sudut-sudut baca dan koleksi saya, juga melibatkannya merapikan sudut bacanya sendiri.
Dari pengalaman panjang ini, saya sekedar berbagi tips untuk menularkan minat baca pada anak.
- Menjadi contoh. Contoh itu penting, karena kalau kita tidak suka baca, bagaimana bisa menyuruh anak untuk suka baca.
- Buat permainan atau kegiatan bersama yang dalam prosesnya memerlukan referensi bacaan, seperti yang sudah saya contohkan di atas
- Perkenalkan dan sering mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku
- Biarkan anak memilih bukunya sendiri. Orang tua tinggal menyaring mana yang boleh dan mana yang tidak. Kemudian beri alasan jujur mengapa buku itu tidak boleh dikonsumsi untuknya.
- Fasilitasi dengan menciptakan sudut-sudut baca yang nyaman, dimana saja di setiap ruangan.
- Buat buku bisa terlihat dan mudah dijangkau. Salah satunya jadikan buku sebagai elemen dekorasi, jangan hanya tersimpan dalam lemari.
- Libatkan orang yang dia kagumi untuk memberi masukan, seperti halnya nasihat keponakan saya pada Khan.
- Manfaatkan media online sebagai alternatif saat stok buku menipis.
- Terakhir, jangan pernah berpikir rugi 'beli buku'. Harga buku tidak sebanding dengan ilmu dan manfaat yang didapat. Jika sudah selesai membaca dan sudah tidak ingin disimpan lagi, buku bisa disedekahkan. InsyaAllah bisa menjadi ladang ilmu dan pahala. Tidak ada ruginya, kan


